GEGER PECINAN Jakarta: Sejarah 400 Tahun - Susan Blackburn menulis : Tionghoa sudah ada jauh sebelum VOC tiba di Batavia sebagai rekan pedagang. VOC masuk dan keadaan berubah. Pada Oktober 1740, wilayah sekitar Batavia menjadi saksi pemberontakan petani Cina. Hal ini membuat paranoia VOC serta pribumi. Terjadi penyerangan terhadap kaum Tionghoa dengan korban mencapai 10.000 orang atas surat perintah Adrian Volckainer yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal saat itu. PERANG JAWA (1825-1830) Tionghoa dalam Pusaran Politik - Benny G . Setiono menulis : Pada September 1825, pasukan berkuda yang dipimpin putri Sultan Hamengku Buwono I, Raden Ayu Yudakusuma, menyerbu Ngawi, kota kecil di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur yang terletak di tepi Bengawan Solo. Dalam perjalanan itu banyak orang Tionghoa yang dibunuh tak peduli anak-anak atau perempuan. Mereka dibunuh dan tubuh-tubuh yang terpotong dibiarkan di jalanan. Kebencian etnis Jawa ini dikarenakan Tionghoa saat itu dijadikan bandar-bandar pemungut pajak oleh para Sultan Jawa. KASUS LAINNYA Hendri F. Isnaeni menulis : P ada awal abad ke-20, kembali tercatat peristiwa rasial terhadap etnis Tionghoa, yaitu kerusuhan di Solo pada 1912 dan kerusuhan di Kudus pada 1918 . Pada masa revolusi, kembali terjadi gerakan anti etnis Tionghoa , seperti yang terjadi di Tangerang pada Mei-Juli 1946 , Bagan Siapi-api pada September 1946 , dan Palembang pada Januari 1947 . Tragedi terhadap masyarakat Tionghoa berikutnya terjadi pada saat 1965 . Cina yang menjadi negara komunis besar saat itu dianggap punya peran dalam Gerakan 30 September 1965 (G30S) . Banyak masyarakat Tionghoa saat itu yang menjadi korban karena dianggap komunis atau mata-mata Tiongkok. Kebencian ini tidak berhenti sampai situ saja, orang-orang Cina dianggap sebagai cukong dan pemeras harta masyarakat lokal. Di sini ide primordial pribumi melawan pendatang menjadi legitimasi untuk melakukan kejahatan. Dalam konteks yang lebih modern ada dua peristiwa diskriminasi dan kekerasan yang sangat keji terjadi terhadap tenis Tionghoa. Pertama adalah pembantaian t erhadap 30.000 orang etnis Tionghoa di Provinsi Kalimantan Barat pada 1967 atas nama PGRS/PARAKU . Elsam menyebut terjadi pembersihan etnis dalam peristiwa ini , sementara dalam buku Tandjoengpoera Berdjoeng, 1977 , disebutkan setidaknya ada 27.000 orang m ati dibunuh, 101.700 warga mengungsi di Pontianak dan 43.425 orang di antaranya direlokasi di Kabupaten Pontianak. Selanjutnya tentu saja peristiwa kerusuhan 1998 . Saat itu etnis Tionghoa menjadi korban kekerasan, penjarahan dan diskriminasi hebat. Gejala Xenofobia ini merupakan buntut dari kesenjangan ekonomi dan kebencian berdasar prasangka kepada etnis Tionghoa . Saat peristiwa ini terjadi banyak perempuan-perempuan Tionghoa yang diperkosa, tokonya dibakar dan usaha milik mereka dirusak. Kasus ini tak pernah selesai sampai hari ini dan pelakunya tak pernah diusut.